Apa yang anda famahi tentang diri anda sendiri ? Apakah anda benar - benar mengerti tentang diri anda secara utuh?
Saat aku mendengarkan alunan nada indah dari lagu - lagu nasyid puji - pujian kepada Nabi Muhammad (saw) dan keagungan Allah (swt), spontan neuron - neuron dan sel saraf yang lain bereaksi akan memori kelam masa lalu, kejadian yang akan datang dan apa yang akan terjadi di hari kemudian.
Sedikit merubah suasana, aku mendengarkan lagu - lagu romantis (baca : cengeng) dari banyak band2 indonesia. Mekanisme kerja otakku serentak mendayu-dayu. Teringat percintaan yang lalu, dengan para mantan kekasih (pernah koleksi juga neh). Liat istri jadi semangat lagi deh (maklum dah dapat jodoh).
Pindah ke frekwensi lain, ada dentuman dari hasil distorsi senar drum dengan stiknya, ditambah skill mumpuni memainkan speed gitar yang garang dan suara penyanyi yang susah membedakan saat dia susah buang air besar, semangat kupun berkobar. Akulah preman dari segala preman (siapa tuh Joni Indo, ato Jendral Alfredo). Akulah penguasa diatas penguasa (siapa itu soeharto?).
Siapakah aku ini?
Pertanyaan yang sangat lucu (kalo' ga' mau sok dibilang fiosofis). Apakah saya dangdut? Keroncong? Metal? atau penganut multy genre. Multy Genre (ada ga' seh istiilah kaya' gini) dari semua jenis. Berarti aku ini oportunis dong. Bunglon dong (ganti tempat ganti warna juga). Ga' konsisten dan tidak punya prinsip tetap.
Entah
Aku pernah ingin tau segalanya (mungkin sekarang juga masih) namun tidak pernah menyelesaikan satu bagian pun dalam pilihan - pilihan itu. "Hidup adalah Keterpaksaan", ini adalah judul dari makalah yang pernah aku buat sebagai syarat mengikuti kegiatan kajian yang dilaksanakan oleh kelompok pengikut "ahlul bait". Poin penting dari makalah itu bahwa aku menganggap (saat makalah itu dibuat) kita ada dalam sebuah pusaran keterpaksaan dari kebebasan yang sebenarnya mengikat. (sori membingungkan penulis sendiri menjabarkannya).
Suatu saat yang lain aku tau kita memiliki tanggung jawab kepada kehidupan secara keseluruhan. Tidak hanya bagi diri kita sendiri di hari kemudian, namun juga kontribusi yang kita sumbangkan kepada kehidupan. Jadilah saat itu aku membumi (meminjam istilah para aktivis saat itu) dengan belajar tentang teori Psikoanalisis Karl Max, Lenin, Soekarno dan penganut pemahaman kiri. Dengan kepalan tangan kiri diacungkan ke langit, hampir tiap minggu aku berada di jalanan menyuarakan apa yang diderita oleh rakyat. Apa yang diharapkan dari sebuah negara.
Tapi disana aku tidak bisa banyak makan
Saya akhirnya apriori dengan segalanya. Aku ingin kembali memikirkan apa yang akan terjadi pada diri saya pribadi 1 tahun yang akan datang, 2 tahun, saat saya berumur 30 tahun dan belum memiliki keturunan. Bagaimana kalau saya meninggal tanpa anak? (pertanyaan yang lucu untuk masa sekarang). Seks aku bisa dapatkan tapi anak?
Besoknya saya ada ditengah riuh rendahnya suara gendang yang diberi nada oleh gita dan nyanyian yang tak tentu arah dari mulut-mulut berbau alkohol rendah. Yah disini menyenangkan, tanpa beban. Aku menari dan kadang mencela, memaki orang lain seenaknya. Dan akhir dari cerita ini saat seorang perempuan muda (abg kalee) tertindih oleh dua orang temanku dan tangannya aku genggami. (Mengingat kejadian ini sama dengan mengingat kematian bagiku)
Tapi kenapa aku masih kurus juga ?
Tuhan
ALLAH
Aku selalu tertarik membicarakannya, namun menjadi berpaling saat diwajibkan memujanya.
Saat aku mendengarkan alunan nada indah dari lagu - lagu nasyid puji - pujian kepada Nabi Muhammad (saw) dan keagungan Allah (swt), spontan neuron - neuron dan sel saraf yang lain bereaksi akan memori kelam masa lalu, kejadian yang akan datang dan apa yang akan terjadi di hari kemudian.
Sedikit merubah suasana, aku mendengarkan lagu - lagu romantis (baca : cengeng) dari banyak band2 indonesia. Mekanisme kerja otakku serentak mendayu-dayu. Teringat percintaan yang lalu, dengan para mantan kekasih (pernah koleksi juga neh). Liat istri jadi semangat lagi deh (maklum dah dapat jodoh).
Pindah ke frekwensi lain, ada dentuman dari hasil distorsi senar drum dengan stiknya, ditambah skill mumpuni memainkan speed gitar yang garang dan suara penyanyi yang susah membedakan saat dia susah buang air besar, semangat kupun berkobar. Akulah preman dari segala preman (siapa tuh Joni Indo, ato Jendral Alfredo). Akulah penguasa diatas penguasa (siapa itu soeharto?).
Siapakah aku ini?
Pertanyaan yang sangat lucu (kalo' ga' mau sok dibilang fiosofis). Apakah saya dangdut? Keroncong? Metal? atau penganut multy genre. Multy Genre (ada ga' seh istiilah kaya' gini) dari semua jenis. Berarti aku ini oportunis dong. Bunglon dong (ganti tempat ganti warna juga). Ga' konsisten dan tidak punya prinsip tetap.
Entah
Aku pernah ingin tau segalanya (mungkin sekarang juga masih) namun tidak pernah menyelesaikan satu bagian pun dalam pilihan - pilihan itu. "Hidup adalah Keterpaksaan", ini adalah judul dari makalah yang pernah aku buat sebagai syarat mengikuti kegiatan kajian yang dilaksanakan oleh kelompok pengikut "ahlul bait". Poin penting dari makalah itu bahwa aku menganggap (saat makalah itu dibuat) kita ada dalam sebuah pusaran keterpaksaan dari kebebasan yang sebenarnya mengikat. (sori membingungkan penulis sendiri menjabarkannya).
Suatu saat yang lain aku tau kita memiliki tanggung jawab kepada kehidupan secara keseluruhan. Tidak hanya bagi diri kita sendiri di hari kemudian, namun juga kontribusi yang kita sumbangkan kepada kehidupan. Jadilah saat itu aku membumi (meminjam istilah para aktivis saat itu) dengan belajar tentang teori Psikoanalisis Karl Max, Lenin, Soekarno dan penganut pemahaman kiri. Dengan kepalan tangan kiri diacungkan ke langit, hampir tiap minggu aku berada di jalanan menyuarakan apa yang diderita oleh rakyat. Apa yang diharapkan dari sebuah negara.
Tapi disana aku tidak bisa banyak makan
Saya akhirnya apriori dengan segalanya. Aku ingin kembali memikirkan apa yang akan terjadi pada diri saya pribadi 1 tahun yang akan datang, 2 tahun, saat saya berumur 30 tahun dan belum memiliki keturunan. Bagaimana kalau saya meninggal tanpa anak? (pertanyaan yang lucu untuk masa sekarang). Seks aku bisa dapatkan tapi anak?
Besoknya saya ada ditengah riuh rendahnya suara gendang yang diberi nada oleh gita dan nyanyian yang tak tentu arah dari mulut-mulut berbau alkohol rendah. Yah disini menyenangkan, tanpa beban. Aku menari dan kadang mencela, memaki orang lain seenaknya. Dan akhir dari cerita ini saat seorang perempuan muda (abg kalee) tertindih oleh dua orang temanku dan tangannya aku genggami. (Mengingat kejadian ini sama dengan mengingat kematian bagiku)
Tapi kenapa aku masih kurus juga ?
Tuhan
ALLAH
Aku selalu tertarik membicarakannya, namun menjadi berpaling saat diwajibkan memujanya.