Sabtu, Agustus 04, 2007

Cahaya Hatiku Redup


Kasihan sekali dia, semalam dia muntah terus. Dia gelisah saat tidur dan saat menyusui di ibunya, sebentar-sebentar dia muntahkan kembali. Merutnya kembang kempis sambil tersesak dan berkeringat dingin kemudian muntah. Sekali lagi aku sedih, kasihan, takut, emosi dan khawatir membungkus perasaanku saat melihatnya seperti itu.


Apa yang salah dengan kami nak?. Seluruh perasaan cinta dan kasih sayang kami berdua telah tertumpah ruah buatmu. Perhatian kami hanya tertuju padamu. Semua telah kami lakukan (bukan mau menghitung pemberian kami), dengan satu harapan kau akan selalu baik - baik saja (mirip pingkan ya..).


Entah apa yang ada di fikiran setiap orang tua yang memiliki anak. Entah apa reaksi mereka melihat anaknya yang menjadi pelipur lara, penyemangat dan pemberi harapan terkulai lemas. Tapi yang pasti nak, yang aku pahami dengan jelas, kami berdua mencemaskanmu. Jika dapat berandai, ingin aku telan semua ketidaknyamanan yang kau rasakan seorang diri. Ingin kucicipi rasa sakitmu dan bahkan melahap habis tanpa meninggalkan sisa buatmu. Biarkan rasa sakit itu mendekatiku, mencandaiku atau bahkan menyertaiku sekarang ini, asal jangan kau.


Keriangan itulah prestasiku

Tawa canda itulah kesuksesanku

Lelap tidurmulah harta bendaku


Mungkin kau ingin menegur ayahmu ini nak. Ayah yang tak pernah menjadi pemimpin yang baik. Ayah yang menjalani hidupnya tanpa arah. Ayah yang belum bisa memberikan apapun kepada kau dan ibumu kecuali kesedihan.


Maafkan aku nak. Aku ingin sabar dan tabah akan semua ini. Aku ingin berusaha menyelesaikannya. Mohon beri kesempatan kepadaku. Aku ayah buatmu.


Cepatlah terangi kami dengan riangmu. Cahayai kami dengan manjamu. Pastikan padaku engkau sanggup melawan sakit apapun. Dunia adalah perjuangan (kata orang), tapi kau akan berjuang bersama aku dan ibumu.


Reza alghifary... Cahaya Hatiku