Aku anak kedua dari enam bersaudara. Kakak pertamaku perempuan, ini berarti aku anak lelaki pertama. Kehidupan keluarga kami dengan dinamikanya membawa aku seperti sekarang ini. Banyak hal yang aku rasa membentuk dengan tegas karakter psikis aku sekarang dan dalam kehidupanku kedepan.
Bapak adalah seorang anak yatim piatu sejak umur 5 tahun. Dia hidup berpindah - pindah dari saudara -saudaranya yang terlebih dulu berkeluarga. Bapak tidak pernah tahu persis tahun kelahirannya - sekarang dia sering nulis tahun 1955 dengan variasi tanggal dan bulannya-.
Bapak sering ceritakan pada kami tentang masa kecilnya hingga dia berkeluarga. Terus terang, kalau cerita itu di sinetronkan, aku bisa ngasih judul "Sang piatu pencipta Sarjana". Bapak sekolahnya hanya sampai kelas 3 SD. Ceritanya, saat bersekolah di SD Antang yang jaraknya 3 km dari kampung aku (melintasi sawah dan rawa-rawa), sekolahnya di bakar oleh kelompok "gerombolan(g)" waktu itu. Jadi itu pula akhir dia mengenyam pendidikan yang sangat tidak primer pada masa itu.
Sampai kini pun aku belum tahu pasti "gerombolan(g)" yang Bapak maksud. Mungkin itu pemberontakan DI/TII, pemberontakan Andi Azis, PKI atau gerakan separatis lain (sekitar tahun 19 65 - 1970). Suasana saat itu sangat mencekam. Orang - orang hanya berfikir untuk menyelamatkan kehidupan sendiri dan keluarganya. Bekerja dan mencari nafkah bukanlah kewajiban. Apa saja jadi makanan saat itu. Buah jadi makanan pokok. Kepok pisang, umbi-umbian juga dimakan.
Jangan juga tanyakan tentang pakaian. Belum ada butik dan distro waktu itu. Pasar pun hanya dijatah sekali seminggu dengan jarak tempuh 5 - 10 kilometer (pasar terdekat adalah pasar terong). Sementara Bapak hanya mendapat perlindungan "kelas 2" dari saudara-saudaranya yang lebih memproritaskan anak dan istri ketimbang saudara.
Masuk awal tahun 1970-an, kondisi sedikit demi sedikit menjadi lebih aman. Bapak yang saat itu masuk usia remaja (abg kaleee) menjalani kehidupannya dengan bekerja sendiri. Semua hal Bapak kerjakan, menjadi buruh tani dengan bajaknya atau menjadi buruh ternak orang lain dengan sistem pembagian hasil.
Pernah suatu hari, Bapak yang tinggal di rumah saudara perempuannya (satu-satunya) menjadi buruh ternak dengan mengembalakan kerbau milik orang lain terjatuh ke dalam kobangan yang dalam. Lebih tragis lagi, tak ada satu orang pun yang berada di sekitar Bapak waktu itu. Saat terjebak dalam kobangan itu, Bapak timbul tenggelam dalam keadaan panik dan ketakutan. Saat menceritakan kejadian itu (meski telah berulang kali diceritakan) nada suara Bapak jadi pelan dan sedikit sesak.
"Seperi ada bayangan yang melambai-lambaikan tangannya padaku", Bapak seperti masih bisa merasakannya. "Mungkin begitulah yang terjadi pada orang yang ingin di jemput maut". Tapi Bapak masih bisa buat 3 orang anaknya jadi sarjana, 2 berkeluarga dan 3 orang cucu yang setia jadi pelipur laranya.
bersambung......
Bapak adalah seorang anak yatim piatu sejak umur 5 tahun. Dia hidup berpindah - pindah dari saudara -saudaranya yang terlebih dulu berkeluarga. Bapak tidak pernah tahu persis tahun kelahirannya - sekarang dia sering nulis tahun 1955 dengan variasi tanggal dan bulannya-.
Bapak sering ceritakan pada kami tentang masa kecilnya hingga dia berkeluarga. Terus terang, kalau cerita itu di sinetronkan, aku bisa ngasih judul "Sang piatu pencipta Sarjana". Bapak sekolahnya hanya sampai kelas 3 SD. Ceritanya, saat bersekolah di SD Antang yang jaraknya 3 km dari kampung aku (melintasi sawah dan rawa-rawa), sekolahnya di bakar oleh kelompok "gerombolan(g)" waktu itu. Jadi itu pula akhir dia mengenyam pendidikan yang sangat tidak primer pada masa itu.
Sampai kini pun aku belum tahu pasti "gerombolan(g)" yang Bapak maksud. Mungkin itu pemberontakan DI/TII, pemberontakan Andi Azis, PKI atau gerakan separatis lain (sekitar tahun 19 65 - 1970). Suasana saat itu sangat mencekam. Orang - orang hanya berfikir untuk menyelamatkan kehidupan sendiri dan keluarganya. Bekerja dan mencari nafkah bukanlah kewajiban. Apa saja jadi makanan saat itu. Buah jadi makanan pokok. Kepok pisang, umbi-umbian juga dimakan.
Jangan juga tanyakan tentang pakaian. Belum ada butik dan distro waktu itu. Pasar pun hanya dijatah sekali seminggu dengan jarak tempuh 5 - 10 kilometer (pasar terdekat adalah pasar terong). Sementara Bapak hanya mendapat perlindungan "kelas 2" dari saudara-saudaranya yang lebih memproritaskan anak dan istri ketimbang saudara.
Masuk awal tahun 1970-an, kondisi sedikit demi sedikit menjadi lebih aman. Bapak yang saat itu masuk usia remaja (abg kaleee) menjalani kehidupannya dengan bekerja sendiri. Semua hal Bapak kerjakan, menjadi buruh tani dengan bajaknya atau menjadi buruh ternak orang lain dengan sistem pembagian hasil.
Pernah suatu hari, Bapak yang tinggal di rumah saudara perempuannya (satu-satunya) menjadi buruh ternak dengan mengembalakan kerbau milik orang lain terjatuh ke dalam kobangan yang dalam. Lebih tragis lagi, tak ada satu orang pun yang berada di sekitar Bapak waktu itu. Saat terjebak dalam kobangan itu, Bapak timbul tenggelam dalam keadaan panik dan ketakutan. Saat menceritakan kejadian itu (meski telah berulang kali diceritakan) nada suara Bapak jadi pelan dan sedikit sesak.
"Seperi ada bayangan yang melambai-lambaikan tangannya padaku", Bapak seperti masih bisa merasakannya. "Mungkin begitulah yang terjadi pada orang yang ingin di jemput maut". Tapi Bapak masih bisa buat 3 orang anaknya jadi sarjana, 2 berkeluarga dan 3 orang cucu yang setia jadi pelipur laranya.
bersambung......