
Sebuah peribahasa yang mungkin anda semua mengenalnya seperti anda mengenal siapa nama presiden kita, peribahasa itu berbunyi "tak kenal maka tak sayang", biasanya juga jadi ungkapan pamungkas buat yang ngebet banget kenalan ma seseorang.
Aku ingin menyelesaikan persoalan pertama dari peribahasa itu, "tak kenal".
Seperti judul posting ini, "aku bernama RAHMAT". Nama Rahmat ini bisa disejajarkan dengan ikan teri, bawang merah, cabai merah keriting, kol mutu a b c, dll. Yang saya sebutkan tadi adalah produk yang disetiap pasar dijajakan oleh pedagang. Pasar apa pun itu, dari sabang sampai marauke, ada.
Nah, seperti itulah nama RAHMAT ini. Ada dimana-mana. Sejak masuk sekolah dasar aku telah mengenal RAHMAT-RAHMAT yang lain (meski kadang berbeda ejaan atau tambahan nama keluarga). Jadi, untuk membedakan RAHMAT-RAHMAT ini, maka dibuatlah nama lain yang entah atas inisiatif dan kreativitas siapa, tiba-tiba terciptalah julukan yang di sandang.
Saat sekolah dasar aku dijuluki RAHMAT "bitoa". Tambahan "bitoa" ini diambil dari nama kampung aku berasal. Untung saja di sekolahku itu hanya aku yang bernama RAHMAT dari kampung "bitoa". (Bagaimana seandanya kampungku bernama kuching ). Setelah masuk sekolah menengah, ada julukan baru yang aku sandang. "kurus". Pasti kalian bisa menebak dengan jelas mengapa julukan itu menemani aku setiap saat.
Saat sekolah menengah atas (saya dulu di STM Pembangunan Makassar) yang 98%nya lelaki -teman cewek cuman 2 orang- dan tidak pernah dilakukan roling kelas (siswa jurusan listrik 40 orang, dan tidak pernah pindah kelas seperti yang dilakukan umumnya SMA yang melakukan roling kelas setiap kenaikan kelas menurut prestasi akademiknya), jadi teman kelasku dari kelas satu, itupun di kelas dua, tiga hingga empat (STM Pembangunan sampai 4 tahun).
Di STM ini, ada 2 pasang nama yang sama. Yaitu RAHMAT dan RIDWAN, plus nama ayah di belakang nama masing-masing minus aku. Ada suatu ketika secara tidak sengaja ada beberapa teman yang mengumpulkan data tiap siswa. Nah, dalam data itu ada disebutkan nama ayah dari masing-masing siswa. Akhirnya, sejak kejadian itu (masih kelas satu) teman-teman memanggilku SALEH.
"Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya"
Saat sudah masuk bangku kuliahan (sempat kuliah juga loh), RAHMAT kembali memiliki banyak kembaran (ini yang terbanyak, sekitar 8 orang). Singkatnya, aku mendapat julukan "PANJANG". Tapi julukan ini bukan karena "ukuran" sesuatu loh (jangan bayangkan punyaku), tapi karena aku yang tertinggi (sebenarnya sih, kutilang = kurus, tinggi, langsing) diantara RAHMAT-RAHMAT yang lain.
"apalah arti nama"
Tapi yang berarti ternyata julukan yang diberikan.
Sekarang aku baru punya anak laki-laki. Anak pertama. Sempat bingung juga mencarikan nama yang baik, mengandung do'a dan yang paling penting bagi saya bukan nama "pasaran". Anakku aku beri nama "Reza alghiffary". Reza dari usulan seluruh keluarga (karena aku bersaudara, sampai keponakan, berinisial R), dan alghiffary aku ambil (dan modifikasi dikit) dari sahabat Nabi Muhammad bernama Abu Dzar Al Ghifary (ada yang kenal ?).
Lebih jauh tentang anakku, aku ceritakan di posting selanjutnya.