Rabu, Agustus 29, 2007

Lelaki itu.... Bapakku

Aku anak kedua dari enam bersaudara. Kakak pertamaku perempuan, ini berarti aku anak lelaki pertama. Kehidupan keluarga kami dengan dinamikanya membawa aku seperti sekarang ini. Banyak hal yang aku rasa membentuk dengan tegas karakter psikis aku sekarang dan dalam kehidupanku kedepan.



Bapak adalah seorang anak yatim piatu sejak umur 5 tahun. Dia hidup berpindah - pindah dari saudara -saudaranya yang terlebih dulu berkeluarga. Bapak tidak pernah tahu persis tahun kelahirannya - sekarang dia sering nulis tahun 1955 dengan variasi tanggal dan bulannya-.



Bapak sering ceritakan pada kami tentang masa kecilnya hingga dia berkeluarga. Terus terang, kalau cerita itu di sinetronkan, aku bisa ngasih judul "Sang piatu pencipta Sarjana". Bapak sekolahnya hanya sampai kelas 3 SD. Ceritanya, saat bersekolah di SD Antang yang jaraknya 3 km dari kampung aku (melintasi sawah dan rawa-rawa), sekolahnya di bakar oleh kelompok "gerombolan(g)" waktu itu. Jadi itu pula akhir dia mengenyam pendidikan yang sangat tidak primer pada masa itu.



Sampai kini pun aku belum tahu pasti "gerombolan(g)" yang Bapak maksud. Mungkin itu pemberontakan DI/TII, pemberontakan Andi Azis, PKI atau gerakan separatis lain (sekitar tahun 19 65 - 1970). Suasana saat itu sangat mencekam. Orang - orang hanya berfikir untuk menyelamatkan kehidupan sendiri dan keluarganya. Bekerja dan mencari nafkah bukanlah kewajiban. Apa saja jadi makanan saat itu. Buah jadi makanan pokok. Kepok pisang, umbi-umbian juga dimakan.



Jangan juga tanyakan tentang pakaian. Belum ada butik dan distro waktu itu. Pasar pun hanya dijatah sekali seminggu dengan jarak tempuh 5 - 10 kilometer (pasar terdekat adalah pasar terong). Sementara Bapak hanya mendapat perlindungan "kelas 2" dari saudara-saudaranya yang lebih memproritaskan anak dan istri ketimbang saudara.



Masuk awal tahun 1970-an, kondisi sedikit demi sedikit menjadi lebih aman. Bapak yang saat itu masuk usia remaja (abg kaleee) menjalani kehidupannya dengan bekerja sendiri. Semua hal Bapak kerjakan, menjadi buruh tani dengan bajaknya atau menjadi buruh ternak orang lain dengan sistem pembagian hasil.



Pernah suatu hari, Bapak yang tinggal di rumah saudara perempuannya (satu-satunya) menjadi buruh ternak dengan mengembalakan kerbau milik orang lain terjatuh ke dalam kobangan yang dalam. Lebih tragis lagi, tak ada satu orang pun yang berada di sekitar Bapak waktu itu. Saat terjebak dalam kobangan itu, Bapak timbul tenggelam dalam keadaan panik dan ketakutan. Saat menceritakan kejadian itu (meski telah berulang kali diceritakan) nada suara Bapak jadi pelan dan sedikit sesak.



"Seperi ada bayangan yang melambai-lambaikan tangannya padaku", Bapak seperti masih bisa merasakannya. "Mungkin begitulah yang terjadi pada orang yang ingin di jemput maut". Tapi Bapak masih bisa buat 3 orang anaknya jadi sarjana, 2 berkeluarga dan 3 orang cucu yang setia jadi pelipur laranya.

bersambung......

Sabtu, Agustus 25, 2007

reza

ini sebagian foto-foto reza, diambil dari kamera hp nokia 3200 punyaku. yah, baru dari hp itulah yang dapat aku jadikan dokumentasi tentang reza. blum sempat ke studio foto sih, soalnya takut pada fameo "ga' boleh foto bertiga". jadi mungkin nanti kalo foto cuman reza aja deh....

Oasis - Don't Look Back In Anger (US)

this's the vidio

Rabu, Agustus 15, 2007

special day

ini hari bahagia itu. hari yang ga' mungkin bisa terulang dan terlupakan. selalu akan terkenang, dan semoga akan abadi selamanya.

buat reza, ini ibu dan tetta-nu na'.

Don't look back In Anger

Slip inside the eye of your mind
Don't you know you might find
A better place to play
You said that you'd once never been
All the things that you've seen
Will slowly fade away

So I'll start the revolution from my bed
Cos you said the brains I had went to my head
Step outside the summertime's in bloom
Stand up beside the fireplace
Take that look from off your face
You ain't ever gonna burn my heart out
So Sally can wait, she knows its too late as we're walking on by
Her soul slides away, but don't look back in anger I hear you say

Take me to the place where you go
Where nobody knows if it's night or day
Please don't put your life in the hands
Of a Rock n Roll band
Who'll throw it all away

So I'll start the revolution from my bed
Cos you said the brains I had went to my head
Step outside the summertime's in bloom
Stand up beside the fireplace
Take that look from off your face
You ain't ever gonna burn my heart out

So Sally can wait, she knows its too late as we're walking on by
Her soul slides away, but don't look back in anger I hear you say

Don't look back in anger
Don't look back in anger
Don't look back in anger
At least not today

Sabtu, Agustus 11, 2007

Reza Alghifary


Itulah nama yang aku berikan padanya. Nama yang mungkin bagi saya tidak teramat berarti jika dibandingkan dengan sosok mungil yang sanggup merubah keadaan teramat sulit sekalipun hanya dengan senyumannya. Aku bisa memanggilanya apa saja, "Al", "Reza", "Fary", "Aco'" atau panggilan sayang lainnya.

Dia lahir tepat 9 hari dari hari ulang tahunku. Selasa malam tanggal 24 April 2007, pukul 21:10 tepat dia lahir. Sebuah kelahiran anak manusia yang sebelumnya tercipta dari serangkaian cerita kehidupan manusia-manusia sebelumnya.

Sore yang menegangkan

Hari itu aku kebetulan mendapat tugas di shift pagi (07.30 - 15.30). Aku termasuk orang yang suka beraktivitas di banyak organisasi. Sewaktu masih kuliah hampir seluruh organisasi formal kampus telah aku masuki. Study Club, HMJ, Senat, Majelis Mahasiswa dengan jabatan inti. Dan organisasi terakhir yang aku jadikan tempat berekspresi dan berkreativitas serta bersosialisasi dengan banyak orang adalah di "sanggar merah putih makassar"

Seperti namanya, organisasi ini adalah organisasi kesenian. Namun banyak hal yang bisa aku dapatkan di organisasi ini, baik pengetahuan tentang pengelolaan organisasi, pemahaman tentang seni dan interaksi langsung dengan banyak seniman multitalent.

Sore itu aku sengaja langsung ke sanggar selepas jam kerja (masih sore), mengingat banyak hal yang ingin kami diskusikan tentang program kerja organisasi. Tiba di sana aku bertemu dengan "saudara" seangkatan, ada Ikha dan Chiwang serta "saudara" lain di sanggar. Kami masih membicarakan tentang kegiatan yang telah sukses kami lakukan.

Aku berada di sana baru sekitar 30 menit, tiba-tiba aku menerima pesan singkat (sms) dari istriku yang seketika membuatku panik. Bunyi sms itu intinya mengatakan bahwa ada cairan yang keluar terus menerus dan firasatnya (juga rasa sakitnya) mengatakan bahwa tidak lama lagi dia akan melahirkan. Dengan segera aku berpamitan pada teman-teman disana untuk segera pulang dan tak lupa teman-teman mengingatkan agar aku berhati-hati dijalan.

Berbagai jenis perasaan dan fikiran mengiringi putaran mesin motorku yang bergerak ringan di antara jejeran mobil-mobil dan motor-motor yang berseliweran di jalan raya Kota Makassar yang jumlahnya lebih besar dibandingkan jumlah rumput di taman kota.

Setelah tiba di rumah aku menemukan istriku sedang berjalan hilir mudik di atas rumah. Dengan sarung batik yang dikenakannya, dia sedikit lemas dan keringat dingin di kening yang menandakan ada perasaan sakit yang ditahankan. Dia menceritakan apa yang dialaminya pagi hingga siang ini.

Tadi pagi ada cairan menyerupai darah yang keluar dari (maaf) kemaluannya. Beberapa jam kemudian cairan bening mirip air yang terus menerus membasahi diiringi sakit di perut bagian samping tembus hingga punggung yang kadang terasa sangat sakit secara tiba-tiba. Ibu menyarankan agar dia banyak jalan dulu, katanya sih belum apa-apa (maklum, ibu merasa dia punya pengalaman lebih tentang melahirkan).

Semakin lama, cairan bening itu semakin banyak. Rasa sakit pun datang semakin sering yang bisa aku lihat dengan jelas sangat dia meringis memegangi perut besarnya itu. Aku kebingungan, yang sanggup aku lakukan saat itu hanya menenangkannya dan menghapus peluh di keningnya sambil memberi semangat dan kekuatan agar dia bersabar dan selalu tawakkal kepada yang kuasa.

Waktu maghrib telah berlalu, seperti bola salju yang digelindingkan dari puncar gunung es, rasa sakit, ketakutan, ketegangan dan gelisah yang terjadi pada aku dan istriku semakin besar. Aku sudah tidak dapat menahan diri lagi berlama-lama dengan kata sabar dan tenang dari Ibuku yang mengatakan belum saatnya di bawa kerumah sakit.

Semua perlengkapan yang telah dia persiapkan sebelumnya aku keluarkan dari kamar. Inilah waktunya, sekarang dan tidak nanti-nanti lagi. Dan sepertinya Ibuku juga sudah merasa inilah saat tepat membawanya ke rumah sakit. Untung saja saat itu Bapak membawa mobil kerumah, segera semuanya bergerak. Gerakan-gerakan dan teriakan-teriakan panik menyertai keberangkatan kami ke rumah sakit menyongsong kelahiran manusia baru di keluarga kami.

Rupanya kontraksi di rumah sudah memasuki fase medium kontraksi ibu yang menurut dokter segera ditindaklanjuti. Dan tanpa ba bi bu lagi, segera saja dia dibawa ke kamar bersalin untuk mempersiapkan persalinannya. Sementar itu aku hanya berada di luar kamar menunggu dengan segala perasaan yang berkecamuk.

Yah, jujur saja. Banyak moment yang telah aku lewatkan. Aku pernah di keroyok orang, pernah juga berkelahi massal, pernah di todok pistol polisi, pernah paranoid akut karna minum "obat" dan kejadian-kejadian lainnya. Tapi jujur, perasaanku saat menunggu detik-detik menegangkan ini, apakah semua akan berjalan lancar?, apakah semuanya akan selamat?, anakku akan seperti apa?, normal atau cacatkah dia?, perempuan atau lelakikah?(ini bagian yang terpikirkan tapi bukan hal penting menurutku). Tapi sensasi adrenaline-ku menemukan titik baru yang lebih extrem sepanjang sejarah hidupku saat ini.

Sekitar 30 menit berada di kamar bersalin, Anti (adik perempuanku) keluar dari kamar bersalin dan menghampiriku membisikkan sebuah kalimat yang sangat getir terasa. "kak, mama bilang kakak sholat dulu, terus berdo'a semoga selamat". "Kenapa aku harus sholat dulu?, apa yang terjadi pada dia?".

Tepat 21:10, aku yang memegang empat batang rokok sekaligus (baru aku sadari beberapa saat kemudian) terasa panas di tenggorokan dan mataku. Aku menangis terisak takkala dari kamar bersalin terdengar suara tangis, lirih dan jernih sejernih mata air dari gunung. Mata air itulah yang membasahi tenggorokanku, mendinginkan otakku. Anakku, dia lahir sempurna, lelaki, dan selamat bersama ibunya.

SELAMAT DATANG NAK, INI DUNIA. KITA BICARAKAN SEMUA SAAT KAU MAMPU



bersambung...........

Kamis, Agustus 09, 2007

Sanjunganku

(untuk pemilik empat nama)

jangan lukis nirwana dengan puji
membawa serta bermimpi

aku tahu diri
ada gapai yang tinggi
jika mimpi kubawa pasti

malam penting
saat tak ada denting
aku dan kau
menyatakan semua keping
yang akan kita satukan
dalam hening

bawalah serta pagi
saat awal lahirnya matahari
jauh dalam sadarnya sanubari
membawa pertautan hati

jejak dulu
yang sering jadi haru
akan jadi lalu
terlewati datangnya baru

untukmu
kasih dan sayangku
ada disekitarmu

puisi ini datang kepadaku di saat malam telah larut. suara yang baru aku dengarkan membuat imajinasiku menciptakan kata demi kata yang terangkai dengan sempurna. yah, puisi diatas (subjektif penulis) sangat sempurna. dia mewakili semua perasaan, keinginan, harapan dan permintaan.
puisi adalah sesuatu yang lahir dan menjadi eksis setelah dituliskan menurut rangkaian kata - kata. sekarang apapun perasaan yang aku alami, dia tetap puisi pada malam itu.


untuk pemilik empat nama
kata-kata tlah habis untuk kurangkaikan menjadi puisi

Sabtu, Agustus 04, 2007

Cahaya Hatiku Redup


Kasihan sekali dia, semalam dia muntah terus. Dia gelisah saat tidur dan saat menyusui di ibunya, sebentar-sebentar dia muntahkan kembali. Merutnya kembang kempis sambil tersesak dan berkeringat dingin kemudian muntah. Sekali lagi aku sedih, kasihan, takut, emosi dan khawatir membungkus perasaanku saat melihatnya seperti itu.


Apa yang salah dengan kami nak?. Seluruh perasaan cinta dan kasih sayang kami berdua telah tertumpah ruah buatmu. Perhatian kami hanya tertuju padamu. Semua telah kami lakukan (bukan mau menghitung pemberian kami), dengan satu harapan kau akan selalu baik - baik saja (mirip pingkan ya..).


Entah apa yang ada di fikiran setiap orang tua yang memiliki anak. Entah apa reaksi mereka melihat anaknya yang menjadi pelipur lara, penyemangat dan pemberi harapan terkulai lemas. Tapi yang pasti nak, yang aku pahami dengan jelas, kami berdua mencemaskanmu. Jika dapat berandai, ingin aku telan semua ketidaknyamanan yang kau rasakan seorang diri. Ingin kucicipi rasa sakitmu dan bahkan melahap habis tanpa meninggalkan sisa buatmu. Biarkan rasa sakit itu mendekatiku, mencandaiku atau bahkan menyertaiku sekarang ini, asal jangan kau.


Keriangan itulah prestasiku

Tawa canda itulah kesuksesanku

Lelap tidurmulah harta bendaku


Mungkin kau ingin menegur ayahmu ini nak. Ayah yang tak pernah menjadi pemimpin yang baik. Ayah yang menjalani hidupnya tanpa arah. Ayah yang belum bisa memberikan apapun kepada kau dan ibumu kecuali kesedihan.


Maafkan aku nak. Aku ingin sabar dan tabah akan semua ini. Aku ingin berusaha menyelesaikannya. Mohon beri kesempatan kepadaku. Aku ayah buatmu.


Cepatlah terangi kami dengan riangmu. Cahayai kami dengan manjamu. Pastikan padaku engkau sanggup melawan sakit apapun. Dunia adalah perjuangan (kata orang), tapi kau akan berjuang bersama aku dan ibumu.


Reza alghifary... Cahaya Hatiku

Jumat, Agustus 03, 2007

Pappasangku ri kau andi'

punna ta si'rai ammumba sioro'na allowa
na tattumpasa' je'ne tamparang ri bontoa
sierang barubuna
u'rangi pacce le'baka ki sirenrengang andi'

ka'de ammuko na ki tassigappami
nipasisa'la' ri anja
nawa-nawai kakkala' le'baka di julung andi'

ebara' ta'lewami panggainnu rinakke
na si'rako assingai rimaraeng
jagai pangngu'ranginnu rikalengku
mannaja kodiku andi'

le'bangkki sikarannuang
sidakkiki taero' silakka'

bulu' tinggi nitanrumpakki
dinging bangi ta kellai

riolo nyawata' ni se'rei
atinta sikaleoki

mingka apa nicini'mo inne
nu la'leangmi pangngaingku
nu palari janjinnu riolo

pappasangku ri kau andi'
te'neko ri sunggua
la'birikko ri tawwa
u'rangi rioloa

Rabu, Agustus 01, 2007

Hari itu... Hari indah


January 07, 2007, adalah hari yang memiliki kekuatan untuk selalu aku kenang. Hari yang bersejarah meski tidak dimerahkan tanggalnya dan dijadikan hari libur nasional. Hari monumental meski tak dibuatkan sebuah prasasti. Namun bagi saya, seluruh kejadian hari itu adalah momentum ke-manusiaan-ku.

Hari itu sangat cerah, meski beberapa hari sebelumnya (bahkan beberapa minggu yang lalu) hujan memiliki keinginan yang lain. Musim hujan saat itu sangat aneh, dan BMG sebagai otoritas tunggal penafsiran cuaca, memberi warning akan ketidakstabilan curah hujan bulan Januari. Yah, dua hari yang lalu rumahnya masih tergenang air setinggi lutut. Bukan hanya aku yang khawatir, namun semua orang yang berada di ring 1 (orang tua), ring 2 (saudara, om dan sepupu) dan ring 3 (tetangga) juga dihinggapi perasaan yang sama meski dengan takaran yang berbeda.

Namun semua bernafas lega. Hari yang dinantikan ternyata cerah

Ridwan (adik laki-lakiku) dan Anti (adik perempuanku) baru tiba dari menyebarkan undangan pernikahanku. Mereka semua basah kuyub. Hujan menyiraminya sejak meninggalkan rumah, di perjalanan hingga kembali. Aku lihat mereka lelah, namun dengan ekspresi yang riang mereka (terlebih Anti) puas dengan kelarnya semua undangan yang ada pada mereka. Aku kasihan sekaligus berbangga, hal seperti itu sudah sering aku alami saat saudara, sepupu dan keluarga yang lain mempersiapkan pesta mereka. Akulah yang paling sering di minta pertolongan untuk mengantarkan (juga membuatkan) undangan.


Tiga hari minus hari H, aku masih menyempatkan diri kerumahnya. Disana aku menemukan suasana yang sangat jauh berbeda dengan suasana yang terjadi di rumahku. Air masih mengenang di depan rumahnya setinggi lutut sehingga membuat mesih motorku berasap. Rumahnya pun tidak memperlihatkan tanda-tanda akan ada pesta beberapa hari lagi. Ah, apa yang terjadi tiga hari yang datang ?.


Namun semua bernafas lega. Hari yang dinantikan ternyata cerah

Tenda telah terpasang dengan rapi, semua orang bergegas mengurus banyak hal yang aku sendiri tidak mengetahui. Kesibukan yang kadang diselingi dengan canda, panik, riuh tapi semuanya terlihat sangat antusias menyelesaikan pekerjaan mereka. Ada yang merapikan kursi, meja, mencuci piring, membuat hiasan bahkan ada yang sibuk foto-foto.

Hari pernikahanku tiba. Hari yang akan merubah banyak hal. Kemarin aku masih berstatus lajang harus rela melepaskannya. Kemarin aku masih memanggilnya tante dan om, kini wajib memanggilnya bapak dan ibu. Aku telah mempunyai mertua, ipar dan ISTRI. Semua menjadi lain dan baru.

Namun semua bernafas lega. Hari yang dinantikan ternyata cerah


Ada beberapa foto yang bisa anda lihat disini
.