
Itulah nama yang aku berikan padanya. Nama yang mungkin bagi saya tidak teramat berarti jika dibandingkan dengan sosok mungil yang sanggup merubah keadaan teramat sulit sekalipun hanya dengan senyumannya. Aku bisa memanggilanya apa saja, "Al", "Reza", "Fary", "Aco'" atau panggilan sayang lainnya.
Dia lahir tepat 9 hari dari hari ulang tahunku. Selasa malam tanggal 24 April 2007, pukul 21:10 tepat dia lahir. Sebuah kelahiran anak manusia yang sebelumnya tercipta dari serangkaian cerita kehidupan manusia-manusia sebelumnya.
Sore yang menegangkan
Hari itu aku kebetulan mendapat tugas di shift pagi (07.30 - 15.30). Aku termasuk orang yang suka beraktivitas di banyak organisasi. Sewaktu masih kuliah hampir seluruh organisasi formal kampus telah aku masuki. Study Club, HMJ, Senat, Majelis Mahasiswa dengan jabatan inti. Dan organisasi terakhir yang aku jadikan tempat berekspresi dan berkreativitas serta bersosialisasi dengan banyak orang adalah di "sanggar merah putih makassar"
Seperti namanya, organisasi ini adalah organisasi kesenian. Namun banyak hal yang bisa aku dapatkan di organisasi ini, baik pengetahuan tentang pengelolaan organisasi, pemahaman tentang seni dan interaksi langsung dengan banyak seniman multitalent.
Sore itu aku sengaja langsung ke sanggar selepas jam kerja (masih sore), mengingat banyak hal yang ingin kami diskusikan tentang program kerja organisasi. Tiba di sana aku bertemu dengan "saudara" seangkatan, ada Ikha dan Chiwang serta "saudara" lain di sanggar. Kami masih membicarakan tentang kegiatan yang telah sukses kami lakukan.
Aku berada di sana baru sekitar 30 menit, tiba-tiba aku menerima pesan singkat (sms) dari istriku yang seketika membuatku panik. Bunyi sms itu intinya mengatakan bahwa ada cairan yang keluar terus menerus dan firasatnya (juga rasa sakitnya) mengatakan bahwa tidak lama lagi dia akan melahirkan. Dengan segera aku berpamitan pada teman-teman disana untuk segera pulang dan tak lupa teman-teman mengingatkan agar aku berhati-hati dijalan.
Berbagai jenis perasaan dan fikiran mengiringi putaran mesin motorku yang bergerak ringan di antara jejeran mobil-mobil dan motor-motor yang berseliweran di jalan raya Kota Makassar yang jumlahnya lebih besar dibandingkan jumlah rumput di taman kota.
Setelah tiba di rumah aku menemukan istriku sedang berjalan hilir mudik di atas rumah. Dengan sarung batik yang dikenakannya, dia sedikit lemas dan keringat dingin di kening yang menandakan ada perasaan sakit yang ditahankan. Dia menceritakan apa yang dialaminya pagi hingga siang ini.
Tadi pagi ada cairan menyerupai darah yang keluar dari (maaf) kemaluannya. Beberapa jam kemudian cairan bening mirip air yang terus menerus membasahi diiringi sakit di perut bagian samping tembus hingga punggung yang kadang terasa sangat sakit secara tiba-tiba. Ibu menyarankan agar dia banyak jalan dulu, katanya sih belum apa-apa (maklum, ibu merasa dia punya pengalaman lebih tentang melahirkan).
Semakin lama, cairan bening itu semakin banyak. Rasa sakit pun datang semakin sering yang bisa aku lihat dengan jelas sangat dia meringis memegangi perut besarnya itu. Aku kebingungan, yang sanggup aku lakukan saat itu hanya menenangkannya dan menghapus peluh di keningnya sambil memberi semangat dan kekuatan agar dia bersabar dan selalu tawakkal kepada yang kuasa.
Waktu maghrib telah berlalu, seperti bola salju yang digelindingkan dari puncar gunung es, rasa sakit, ketakutan, ketegangan dan gelisah yang terjadi pada aku dan istriku semakin besar. Aku sudah tidak dapat menahan diri lagi berlama-lama dengan kata sabar dan tenang dari Ibuku yang mengatakan belum saatnya di bawa kerumah sakit.
Semua perlengkapan yang telah dia persiapkan sebelumnya aku keluarkan dari kamar. Inilah waktunya, sekarang dan tidak nanti-nanti lagi. Dan sepertinya Ibuku juga sudah merasa inilah saat tepat membawanya ke rumah sakit. Untung saja saat itu Bapak membawa mobil kerumah, segera semuanya bergerak. Gerakan-gerakan dan teriakan-teriakan panik menyertai keberangkatan kami ke rumah sakit menyongsong kelahiran manusia baru di keluarga kami.
Rupanya kontraksi di rumah sudah memasuki fase medium kontraksi ibu yang menurut dokter segera ditindaklanjuti. Dan tanpa ba bi bu lagi, segera saja dia dibawa ke kamar bersalin untuk mempersiapkan persalinannya. Sementar itu aku hanya berada di luar kamar menunggu dengan segala perasaan yang berkecamuk.
Yah, jujur saja. Banyak moment yang telah aku lewatkan. Aku pernah di keroyok orang, pernah juga berkelahi massal, pernah di todok pistol polisi, pernah paranoid akut karna minum "obat" dan kejadian-kejadian lainnya. Tapi jujur, perasaanku saat menunggu detik-detik menegangkan ini, apakah semua akan berjalan lancar?, apakah semuanya akan selamat?, anakku akan seperti apa?, normal atau cacatkah dia?, perempuan atau lelakikah?(ini bagian yang terpikirkan tapi bukan hal penting menurutku). Tapi sensasi adrenaline-ku menemukan titik baru yang lebih extrem sepanjang sejarah hidupku saat ini.
Sekitar 30 menit berada di kamar bersalin, Anti (adik perempuanku) keluar dari kamar bersalin dan menghampiriku membisikkan sebuah kalimat yang sangat getir terasa. "kak, mama bilang kakak sholat dulu, terus berdo'a semoga selamat". "Kenapa aku harus sholat dulu?, apa yang terjadi pada dia?".
Tepat 21:10, aku yang memegang empat batang rokok sekaligus (baru aku sadari beberapa saat kemudian) terasa panas di tenggorokan dan mataku. Aku menangis terisak takkala dari kamar bersalin terdengar suara tangis, lirih dan jernih sejernih mata air dari gunung. Mata air itulah yang membasahi tenggorokanku, mendinginkan otakku. Anakku, dia lahir sempurna, lelaki, dan selamat bersama ibunya.
SELAMAT DATANG NAK, INI DUNIA. KITA BICARAKAN SEMUA SAAT KAU MAMPU
bersambung...........