Rabu, Agustus 01, 2007

Hari itu... Hari indah


January 07, 2007, adalah hari yang memiliki kekuatan untuk selalu aku kenang. Hari yang bersejarah meski tidak dimerahkan tanggalnya dan dijadikan hari libur nasional. Hari monumental meski tak dibuatkan sebuah prasasti. Namun bagi saya, seluruh kejadian hari itu adalah momentum ke-manusiaan-ku.

Hari itu sangat cerah, meski beberapa hari sebelumnya (bahkan beberapa minggu yang lalu) hujan memiliki keinginan yang lain. Musim hujan saat itu sangat aneh, dan BMG sebagai otoritas tunggal penafsiran cuaca, memberi warning akan ketidakstabilan curah hujan bulan Januari. Yah, dua hari yang lalu rumahnya masih tergenang air setinggi lutut. Bukan hanya aku yang khawatir, namun semua orang yang berada di ring 1 (orang tua), ring 2 (saudara, om dan sepupu) dan ring 3 (tetangga) juga dihinggapi perasaan yang sama meski dengan takaran yang berbeda.

Namun semua bernafas lega. Hari yang dinantikan ternyata cerah

Ridwan (adik laki-lakiku) dan Anti (adik perempuanku) baru tiba dari menyebarkan undangan pernikahanku. Mereka semua basah kuyub. Hujan menyiraminya sejak meninggalkan rumah, di perjalanan hingga kembali. Aku lihat mereka lelah, namun dengan ekspresi yang riang mereka (terlebih Anti) puas dengan kelarnya semua undangan yang ada pada mereka. Aku kasihan sekaligus berbangga, hal seperti itu sudah sering aku alami saat saudara, sepupu dan keluarga yang lain mempersiapkan pesta mereka. Akulah yang paling sering di minta pertolongan untuk mengantarkan (juga membuatkan) undangan.


Tiga hari minus hari H, aku masih menyempatkan diri kerumahnya. Disana aku menemukan suasana yang sangat jauh berbeda dengan suasana yang terjadi di rumahku. Air masih mengenang di depan rumahnya setinggi lutut sehingga membuat mesih motorku berasap. Rumahnya pun tidak memperlihatkan tanda-tanda akan ada pesta beberapa hari lagi. Ah, apa yang terjadi tiga hari yang datang ?.


Namun semua bernafas lega. Hari yang dinantikan ternyata cerah

Tenda telah terpasang dengan rapi, semua orang bergegas mengurus banyak hal yang aku sendiri tidak mengetahui. Kesibukan yang kadang diselingi dengan canda, panik, riuh tapi semuanya terlihat sangat antusias menyelesaikan pekerjaan mereka. Ada yang merapikan kursi, meja, mencuci piring, membuat hiasan bahkan ada yang sibuk foto-foto.

Hari pernikahanku tiba. Hari yang akan merubah banyak hal. Kemarin aku masih berstatus lajang harus rela melepaskannya. Kemarin aku masih memanggilnya tante dan om, kini wajib memanggilnya bapak dan ibu. Aku telah mempunyai mertua, ipar dan ISTRI. Semua menjadi lain dan baru.

Namun semua bernafas lega. Hari yang dinantikan ternyata cerah


Ada beberapa foto yang bisa anda lihat disini
.